Sabtu, 22 Juni 2013

Refleksi Untuk Si Jalak Harupat



REFLEKSI UNTUK "SI JALAK HARUPAT"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Oleh: A. Sobana Hardjasaputra


          Julukan dalam judul tulisan ini adalah julukan bagi Raden Oto Iskandar di Nata. Siapa Oto Iskandar di Nata, sudah diketahui secara umum. Ia adalah salah seorang pahlawan nasional asal Jawa Barat (lahir di Bojongsoang, Bandung tanggal 31 Maret 1897). Gelar Pahlawan Nasional itu diberikan oleh pemerintah kepada Oto (SK Presiden RI No. 088/TK/1073 tanggal 6 November 1973), sebagai tanda pengakuan sekaligus penghormatan kepada tokoh itu, atas sikap, kepeloporan, kepemimpinan, dan perjuangannya dalam menentang penjajah, membela rakyat terjajah, serta jasanya dalam menegakkan kemerdekaan Indonesia. Selain gelar pahlawan, Oto juga memperoleh tanda kehormatan dari pemerintah berupa Bintang Mahaputra Kelas II (17 Agustus 1960) dan gelar Perintis Kemerdekaan (Keppem. RI No. 288/61 tanggal 20 Mei 1961).
          Sekalipun perjuangan dan jasa Oto tidak diketahui secara umum, namun nama Oto Iskandar di Nata dikenal secara nasional, bukan hanya oleh orang Indonesia, tetapi juga oleh orang asing yang tinggal dan datang ke Indonesia, karena nama dan foto tokoh itu terpampang dalam uang kertas RI nominal 20000 rupiah. Namun hal itu tidak berarti nilai perjuangan Oto setara dengan nilai uang tersebut. Nilai perjuangan para pahlawan tidak dapat diukur dengan uang, kecuali – barangkali – pahlawan olah raga.
          Sudah menjadi tradisi – sesuai dengan motto: "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya" – dalam rangka mengenang jasa para pahlawan, setiap kali memperingati momentum tanggal 10 November sebagai "Hari Pahlawan Nasional", di setiap daerah diadakan upacara "Hari Pahlawan". Pemerintah dan sejumlah komponen masyarakat menziarahi taman makam pahlawan. Satu per satu pusara pahlawan ditaburi bunga.
Pada tanda jasa dari Presiden Sukarno bagi Oto Iskandar di Nata sebagai pahlawan, di bagian bawah tanda jasa itu tertulis: "Jasamu Tetap Dikenang". Tulisan itu merupakan amanat atau pesan dari Bung Karno, agar bangsa Indonesia tidak melupakan perjuangan dan jasa para pahlawan. Amanat/pesan itu memang sesuai dengan motto yang ia lontarkan: "Jangan sekali-kali melupakan sejarah" ("ASMERAH").
Mengenang kepahlawanan Oto secara khusus, berbeda dengan mengenang pahlawan lainnya. Kita tidak dapat berziarah ke makam tokoh itu, karena memang jenazah Oto tidak dipusarakan. Hal itu disebabkan Oto gugur secara tragis. Dalam gejolak revolusi kemerdekaan, ia diculik (10 Desember 1945) oleh kelompok yang menamakan diri Pasukan Hitam. Setelah ditahan di daerah Tangerang selama beberapa hari, akhirnya Oto di bunuh di pantai Mauk, Tangerang tanggal 20 Desember 1945. Nasib jenazah Oto sampai sekarang belum diketahui secara pasti, apakah dikubur atau dibuang ke laut. Oleh karena itu, sebagai penghormatan terhadap Oto dalam bentuk lain, tahun 1970-an Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan sejumlah tokoh pejuang kemerdekaan, mengambil segumpal pasir pantai Mauk di tempat Oto dibunuh, kemudian pasir itu "dimakamkan" di sebuah bukit pada tepi jalan raya menuju Lembang, sehingga bukit itu sekarang disebut Pasir Pahlawan.
Mengenang perjuangan Oto bukan hanya dengan penghormatan seperti telah disebutkan, tetapi telah dilakukan pula dalam bentuk penelitian yang menghasilkan beberapa tulisan. Tulisan-tulisan itu umumnya berupa biografi. Namun dalam tulisan-tulisan itu, beberapa permasalahan mendasar sekitar penculikan dan pembunuhan Oto, belum terungkap. Dalam bentuk pertanyaan, permasalahan dimaksud antara lain sebagai berikut. Mengapa Pasukan Hitam menculik kemudian membunuh Oto? Apa alasan atau motif dan maksudnya? Bagaimana sikap, sepak-terjang dan peran Pasukan Hitam dalam revolusi kemerdekaan, sehingga mereka melakukan tindakan anarkhis? Beberapa sumber menyebutkan, sebelum diculik, Oto – waktu itu ia menjabat sebagai menteri negara – menerima telegram berisi permintaan agar Oto datang ke Pemerintah Pusat di Jakarta. Bila telegram itu resmi ataupun palsu, siapa pengirimnya? Bagaimana reaksi spontan dari pemerintah waktu itu atas penculikan dan pembunuhan Oto?
Untuk kepentingan sejarah, khususnya kelengkapan sejarah sekitar revolusi kemerdekaan Indonesia, maka tidaklah berlebihan, bahkan sepantasnya, apabila permasalahan-permasalahan tersebut diteliti secara seksama dan profesional, baik oleh lembaga pemerintah maupun oleh lembaga swasta, khususnya Paguyuban Pasundan – karena Oto adalah tokoh dan perintisnya –, atau oleh siapapun yang menaruh perhatian secara khusus.
Dalam penelitian itu sebaiknya diungkap pula, bagaimana kepemimpinan Oto Iskndar di Nata dalam melakukan perjuangan dan kiprahnya. Hal itu penting, karena kepemimpinan Sunda sering merupakan salah satu masalah yang sering diperdebatkan dalam forum-forum tertentu.
          Bila sumber-sumber yang memuat informasi tentang riwayat hidup dan perjuangan Oto sampai akhir hayatnya, baik sumber tertulis maupun sumber lisan, dikaji secara seksama dan kritis, akan diketahui bahwa kepemimpinan Oto memiliki sifat-sifat atau karakteristik kepemimpinan yang komprehensif. Sifat-sifat dimaksud antara lain: sederhana dan jujur; percaya diri; teguh pendirian; kuat aqidah; cerdas, berdaya inisiatif dan bijak; tegas, anthusiasme dan tahan uji sehingga ia mendapat jukukan "Si Jalak Harupat", berjiwa integrasi, simpatik dan memiliki kharisma, dan lain-lain. Dengan kata lain, kepemimpinan Oto kiranya termasuk tipe kepemimpinan yang cukup ideal.
          Boleh jadi, Oto memiliki sifat-sifat tersebut adalah hasil tempaan dari kehidupan dalam keluarga, pendidikan agama dan pendidikan umum. Setamat dari sekolah rendah (sekolah dasar), Oto melanjutkan pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School), HIK/ Hollandsch Inlandsche Kweekschool (sekolah pendidikan calon guru), dan HKS/Hogere Kweekschool (sekolah guru tingkat atas). Sifat dan sikap Oto setelah dewasa juga tertempa oleh kiprahnya sebagai guru dan aktif dalam organisasi sosial dan politik, bahkan menjadi ketua beberapa organisasi, antara lain Paguyuban Pasundan, Badan Pembantu Prajurit Peta dan Heiho (zaman pendudukan Jepang), dan lain-lain.
Memang sejak remaja, Oto sudah memiliki perhatian terhadap masalah politik dan kenegaraan. Oleh karena itu, ketika ia menjadi anggota Volksraad (DPR zaman Hindia Belanda) – wakil dari Paguyuban Pasundan – ia tidak segan dan berani mengkritisi pemerintah kolonial.
Bahwa Oto memiliki daya inisiatif, tegas, dan kharismatis, ditunjukkan oleh sikap, pemikiran, dan tindakan Oto dalam masalah-masalah penting, baik pada zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang maupun pada masa revolusi kemerdekaan.
Untuk menyebarluaskan ide dan cita-cita perjuangan mencapai kemederkaan, Oto menerbitkan dan sekaligus menjadi pemimpin surat kabat Sipatahoenan (1931). Pada zaman pendudukan Jepang, Oto mendirikan Badan Usaha Pasundan dan menerbitkan sekaligus memimpin surat kabar Tjahaja.
Dalam menyambut proklamasi kemerdekaan dan mengawali revolusi kemerdekaan, Oto memelopori "Pekik Merdeka!" sambil mengacungkan lengan dengan jari dikepal, sebagai salam nasional. Dalam proses pemilihan presiden dan wakil presiden pada rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Oto mengusulkan agar pemilihan dilakukan secara aklamasi dan menunjuk Ir. Sukarno (Bung Karno) sebagai presiden dan Moh. Hatta (Bung Hatta) sebagai wakilnya. Usul itu diterima secara bulat oleh seluruh peserta rapat. Dalam upaya meningkatkan ketahanan negara, BKR (Badan Keamanan Rakyat) diubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Perubahan badan ketentaraan itu adalah gagasan Oto.
Itulah beberapa contoh dari gambaran kepeloporan dan kepemimpinan Oto dalam perjuangan mencapai dan menegakkan kemerdekaan. Akankah sifat, kepemimpinan, dan kepahlawanan Oto Iskandar di Nata diwarisi atau diteladani oleh generasi sekarang dan generasi selanjutnya?  Wallohu'alam.

Penulis: Sejarawan, staf pengajar Unpad Bandung.

Catatan: Dimuat dalam PR, 24 Des. 2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar